p4tkmatematika.org

Kemdikbud

Akhir Pekan, Saatnya Eksplorasi Malaysia

Oleh: Mahrani

 Pekan kedua telah berlalu. School try out telah dilaksanakan dengan maksimal. Peserta siap-siap menghabiskan akhir pekannya sebagaimana jadwal yang telah disusun dengan rapi oleh pihak Seameo Recsam.

Tatapan mata pada jam dinding yang berada tepat di depan kasur tidurku membangunkan ku pada pagi itu. Pukul 05.00 waktu Penang, Malaysia yang membuatku harus segera menarik handuk dan menuju kamar mandi. Aku tau betul karena kebiasaanku dan sahabat karibku Pak Dana, kami biasanya menghabiskan 3 judul film untuk satu sesi ke kamar mandi secara bergiliran. Dan perkiraanku itu benar adanya, pukul 06.05 baru selesai sesi kamar mandi itu.

Persiapan sebelum keberangkatan yang telah dibungkus rapi dalam tas termasuk “perlengkapan salon khas laki-laki” sudah siap sedia di pagi itu.

Adzan subuh berkumandang. Langkah keluar kamar kami ayunkan. Langkah itu kemudian berbelok sebentar ke kanan karena harus menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba yang senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhannya. 2 rakaat itupun berlalu, ditutup dengan salam dan dilanjutkan dengan menadahkan kedua telapak tangan mengharapkan keselamatan di perjalanan yang akan dimulai beberapa menit ke depan.

“Good morning, selamat datang” sambut sang tour guide bernama Mr.Lim pagi itu. Seorang tour guide berbadan tambun, berambut yang tidak lagi hitam, namun senantiasa bertutur kata lembut dan senyum yang mengembang. “Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita akan menuju Kuala Lumpur dan Putera Jaya” tuturnya sebagai kalimat pembuka perkenalan kepada kami yang telah lama menantikan kesempatan ini. Yah….perjalanan untuk dua hari ke depan di pekan kedua kami di Recsam ini diagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat yang menjadi icon negara Melayu ini.

E:\Cahyo 2019\Web 2019\Kemendikbud\IMG-20190323-WA0004.jpg

Perjalanan yang dimulai pukul 06.40 pagi itu akan menempuh jarak yang lumayan melelahkan, tak kurang 400 kilometer harus kami lalui bersama hari itu. Tak ketinggalan, Jembatan terpanjang di Asia Tenggara ikut mempersilahkan kami untuk melalui atas punggungnya di 10 menit perjalanan pertama ini. Sungguh pengalaman luar biasa, diterangi lampu-lampu cantik membuat pesona kenampakan alam buatan itu semakin memanjakan mata.

Negeri Perak dengan ibukotanya Ipoh bak tuan rumah yang ramah menyambut kami dari pulau pinang. Hamparan bukit batu kapurnya yang indah, dihiasi dengan pohon dan goa-goa yang memanjakan mata disertai kepakan burung-burung walet di sekitarannya serta tak mau ketinggalan beberapa petak lahan perkebunan sawit bagaikan pasukan yang berjejer di sepanjang perjalanan. Sempat kutanya sebentar pada tour guide yang mendampingi kami mengenai makna Ipoh itu. Ipoh yang ternyata adalah nama pohon asli negeri perak yang getahnya dipergunakan oleh penduduk asli negeri perak untuk racun dalam berburu hewan di tengah hutan.

Negeri perak berlalu, Negeri Selangor menyambut kami dengan senyum mengembang. Perkebunan kelapa sawit yang teramat luas mulai mengangkat lambaian yangannya sejak gerbang perbatasan Negeri Selangor.

Tak terasa pukul 11.28 telah tiba. perjalanan terhenti untuk 1 jam ke depan di Jejantas Resto, dimana kami harus meregangkan otot punggung serta mengisi kampung tengah yang mulai menggelora menantikan nasi lemat ataupun jajanan lain yang sebagai sumber tenanga siang hingga sore ini. Awal perkiraanku melihat tempat ini dari kejauhan adalah hanya jejeran tempat mengisi perut layaknya beberapa tempat yang pernah kukunjungi di tanah air. Namun aku salah, ternyata hal tersebut hanyalah tampilan awal yang terlihat dari parkiran, namun setelah masuk ke area jejantas, justru kakiku tak sanggup untuk mengeksplorasinya hingga bagian ujung.

Langkahku terhenti di sebuah kedai di bagian dalam area Jejantas. Kedai makanan prasmanan yang sedikit mengobati kerinduanku akan masakan di rumah. Masakan yang dibuat oleh istri serta ibu kandungku. Sigap kuambil pring,sendok dan segala masakan yang ingin kulahap siang itu. Ditemani segelas Milo Ice kental yang lazim dipanggil penduduk Malaysia dengan dialeg melayunya dengan kalimat “milo aes” masakan itu semakin terasa nikmat dilidahku.

1 jam telah berlalu. Perut semua peserta telah terisi penuh. Ampas-ampas yang ada telah diletakkan pada tempat khususnya. Kamipun kembali ke dalam bis dan akan melanjutkan perjalanan ke Pusat Sains Negara yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Jejantas Restoran, Sungai Buloh, Negeri Selangor.

Bis kembali melanjutkan perputaran rodanya. Tak tahu putaran keberapa roda itu, turunan bukit di di ujung pandangan kami ternyata menjadi pintu masuk Kuala Lumpur, tempat tujuan eksplorasi kami untuk dua hari kedepan.

Eksplorasi pertama kami selama 1 jam 30 menit di Pusat Sains Negara, dengan koleksi sainsnya yang beraneka ragam. Namun bagiku, di Taman Pintar yang berada di Jogjakarta jauh lebih lengkap lagi koleksinya.

Satu setengah jam berlalu, bis telah setia menunggu. Namun lanjutan perjalanan itu belum bisa kami lanjutkan karena harus menunggu satu orang diantara kami yang masih setia dengan kebiasaannya. Diskusi kecil antar pasangan peserta lain mulai dilakukan, diskusi ringan mengenai komitmen dan etika yang harus dijaga dan menyesuaikan.

Pukul 14.43 waktu Kuala Lumpur tampak di layar. Roda bis yang membawa kami menyusuri negeri ini akhirnya bergerak kembali. Perjalanan eksplorasi kembali kami nikmati.

Eksplorasi kedua dilanjutkan menuju Istana Negara. Istana terbaru yang dibangun tahun 1996. Istana megah dengan biaya pembangunan 800 Juta Ringgit Malaysia ini sungguh membuat mata semua turis terbelalak. Arsitektur khas Melayu tampak jelas mulai dari arah masuk hingga bangunan utama kediaman resmi Yang Dipertuan Agong. Meskipun panas menyengat, namun antusias mencari angel yang paling tepat membuat para turis mengabaikan sengatan sang mentari di tengah hari ini.

Eksplorasi berlanjut menuju Monumen Nasional Malaysia. Monumen kebanggaan rakyat Malaysia yang didedikasikan untuk mengenang semangat perjuangan para patriot bangsa. Patriot bangsa yang rela mempertaruhkan darah dan nyawanya demi membela tanah air tercinta mereka. Arsitektur khas hasil buah fikir sang maestro dari Austria yang terlihat jelas dari bentuk pondasi hingga atap bangunannya. Cuaca mendung yang terlihat di tempat ini ternyata tidak menyurutkan semangat peserta bahkan suhu panas di negeri ini. Mungkin  mereka telah berpadu dalam satu melodi syahdu.

Detak jam telah menunjukkan waktu 15.49. Sebagian rombongan masih tetap juga tertinggal dari waktu 20 menit yang ditentukan. Kusadari mungkin ini karena semangat dan rasa keingintahuan mereka yang mendalam. Roda bis inipun terpaksa harus tertahan.

Pikirku eksplorasi kali ini cukup sampai disini. Ternyata roda bis ini kembali berputar menghantarkan kami ke Dataran Merdeka Malaysia. Sebuah tempat fenomenal Bangsa Malaysia yang merupakan bangunan pengadilan nasional yang kental dengan arsitektur khas Melayu dan Timur Tengahnya. Bangunan yang berdiri tegak dan gagah tiang bendera setinggi 100 meter lengkap dengan bendera kebangsaannya yang berkibar, seakan-akan ingin berkata pada siapapun yang melihatnya “inilah Malaysia, yang akan senantiasa berkibar sepanjang masa. Semakin kencang angin yang menerjangnya, semakin gagah kibaran benderanya”.

Pukul 16.19, roda bis ini kembali berputar. Kali ini menghantarkan kami menuju hotel untuk sekedar membersihkan kulit dari debu yang menempel, bahkan bau setengah ikan asin khas makhluk-makhluk berkepala tiga ke atas yang deodorantnya hanya bertahan 8 jam saja.

Roda bis ini akhirnya berhenti tepat pukul 16.30. Ia menghantarkan kami untuk sekedar melepas lelah untuk satu jam ke depan sebelum kembali dijemput untuk mengeksplorasi Twin Towers serta pesta mencuci dompet bagi para pemburu oleh-oleh khas negeri orang. Kamar 910 Hotel Sani menyambutku dengan ramahnya, tak sempat kurebahkan badan serta kupejamkan mata ini meski hanya untuk beberapa menit kedepan dikarenakan harus berburu waktu untuk mandi dan berganti pakaian agar tidak ketinggalan bis sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Sambil menunggu antrian di pemandian, tak kupa kuteguk sebotol air mineral penyambutan tamu kesayangan yang disediakan oleh pihak hotel. Terasa lega tenggorokan ini. Tenggorokan bak Gurun Kalahari yang tak dibasahi air sekian jam kali ini basahlah sudah karena tegukan demi tegukan.

Android kupun ikut melemparkan senyuman. Senyuman karena mendapatkan energi untuk beberapa waktu demi mempertahankan hidupnya karena eksploitasi sang pemilik demi mengabadikan moment langka di negeri tetangga.

Detak waktu menunjukkan pukul 17.20 waktu Kuala Lumpur. Kami harus turun ke lobby sebelum 17.30 sebagaimana kesepakatan sebelumnya.

17.44 bis itu rodanya kembali berputar menghantarkan kami ke KLCC. Menara kembar kebanggaan Malaysia yang pernah dinobatkan sebagai gedung tertinggi di dunia. Kesempatan ini merupakan kesempatan emas bagi para peserta. 20 menit di perjalanan, roda sang pengantar berhenti. kami diberi kesempatan untuk mengeksplorasi twin towers hingga 4 jam kedepan.

E:\Cahyo 2019\Web 2019\Kemendikbud\20190323_180724.jpg

Tentu kesempatan emas ini tidak disia-siakan. Lokasi-lokasi paforit tak luput dari mata sang pemburu foto. Ratusan kali foto diambil demi satu gambar terbaik. Puluhan video direkam demi satu video terbaik yang akan diupload di media sosial. Belasan kalimat telah dipersiapkan dengan rapi dan indah sejak berada di Recsam, kalimat salam untuk para yang dicinta di tanah air, hingga kalimat ucapan terima kasih kepada PPPPTK Matematika yang memberikan kesempatan emas pada guru-guru Matematika terbaik dari Indonesia untuk belajar disini.

Twin Towers menjadi tempat eksplorasi terakhir di hari pertama ini.

4 jam berlalu, saatnya harus kembali ke peraduan agar dapat melanjutkan eksplorasi di keesokan harinya lagi….

*Bersambung………*

Kamar 910 Hotel Sani,

Kuala Lumpur-Malaysia

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Plugin created by Jake Ruston - Sponsored by Cashmere Blanket.

Arsip
Statistik