p4tkmatematika.org

Kemdikbud

Serasa Cepat Berlalu

Oleh: Mahrani Pontianak

Aku bingung kalimat apa yang paling tepat untuk kusampaikan saat ini. Hatiku terasa teriris sembilu tatkala membayangkan esok hari sudah tidak ada lagi keceriaan khas para pemburu ilmu. Hari demi hari dilalui dengan senyum dan terkadang perasaan cemburu mulai esok sudah tiada lagi yang mendalu-dalu. Terasa koyak bak tisu yang biasa tersedia di kamar itu.

Aku bingung kalimat apa yang bisa terlontar dari bibir mungil ini. Satu bulan dilalui bersama bukan perkara mudah untuk berpisah dari mereka. Minggu pertama dilalui dengan sejuta ilmu, minggu kedua dilalui dengan ribuan kilometer berliku. Minggu ketiga dilalui dengan rasa mendayu. Minggu keempat dilalui dengan perasaan pilu.

Aku bingung harus mengatakan apa. Yang jelas hari ini adalah hari terakhir aku bisa berkumpul dengan mereka. 25 manusia hebat dari seluruh pelosok negeri ditambah aku yang hanya sebatas anak bawang yang ingin bisa seperti mereka, minimal bisa mengikuti jejak-jejak hebat mereka meskipun tidak bisa setara dengan orang-orang hebat itu.

C:\Users\USER\Downloads\IMG-20190401-WA0003.jpg

Sedih, ya….sedih yang kurasakan saat ini. Esok sudah tidak ada lagi canda khas dari sahabat-sahabat terbaik ini. Tak ada lagi terdengar kalimat “Ayo sarapan dulu pak”, tak ada lagi terdengar ucapan “teman-teman, tugas besok petugas resumenya bapak… ya….”, tak ada lagi terdengar kisah fiktif tongkat ali, tak ada lagi terdengar kalimat “ kirimin foto aku donk…”, tak ada lagi terdengar “prepare to landing sambil tertawa terbahak-bahak”.

Esok sudah kembali ke daerah masing-masing. Sang komandan, Pak Suhadak akan kembali ke tanah Papuanya. Sang pujangga, Pak Dani sudah kembali ke tanah Maduranya. Sang perangkai kata, Pak Alfian sudah kembali ke tanah Makassarnya. Sang sahabat sekamar, Pak Dana sudah kembali ke tanah Batamnya. Sang animator, Pak Ojik sudah kembali ke tanah Mataramnya. Sang pembicara, Pak Anang sudah kembali ke tanah Slemannya. Sang kreator, Bu Tere sudah kembali ke tanah NTTnya. Sang pendaki, Pak Zazuli sudah kembali ke tanah Bangka Belitungnya. Sang Filsuf, Pak Agus sudah kembali ke tanah Jogjanya. Sang pemikir cerdas, Pak Sigit juga kembali ke tanah Jogjanya. Sang Ibu, Bu Lababa juga kembali ke tanah Jogjanya. Sang periang suasana, Bu Erna sudah kembali ke tanah Purwarejonya. Sang Penebar Pede, Pak Praja sudah kembali ke tanah Slemannya. Sang dokumentator, Pak Yasri sudah kembali ke tanah Kolakanya. Sang periang, Bu Jamila sudah kembali ke tanah Gorontalonya. Sang pejuang daerah terdepan, Pak Nurlyanto telah kembali ke tanah Sintangnya. Sang penyabar, Pak Amiri telah kembali ke Seramnya. Sang Penyemangat kelompok, Bu Masrita kembali ke tanah Luwunya. Sang Mas Gagah, Pak Taufik kembali ke tanah Sukamaranya. Sang pemurah senyum, Pak Gunanto sudah kembali ke tanah Lampungnya. Sang periang dalam diam, Pak Tundung kembali ke tanah Wonosobonya. Sang periang, Bu Arlina kembali ke tanah Marosnya. Sang pelempar tutur kata, Bu Ida kembali ke tanah Serangnya. Sang ibu dengan keibuannya, Bu Laila kembali ke tanah Magelangnya. Serta aku, kembali ke tanah Pontianak tercintaku.

Untaian kata tak sanggup kutulis untuk mengungkapkan rasa sedih ini. Goresan pena tak sanggup mewakili kegundahan hati karena tidak lagi dapat mempelajari hal-hal terbaik dari mereka untuk beberapa saat kedepan. Harapan agar bertemu kembali di suatu moment akan datang senantiasa membahana dalam fikiran. Semoga kita dipertemukan.

# Sampai jumpa di kesempatan yang akan datang

#Terima kasih untuk semua pembelajaran yang diberikan

# Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Plugin created by Jake Ruston - Sponsored by Cashmere Blanket.

Arsip
Statistik